Dan merdeka kah kita?
Atau cukup seperti seorang M******i yang suka teriak ‘merdeka’ di depan massa berbaju merah?
Atau cukup dengan melihat gadis-gadis ayu anggota Paskibraka mengibarkan bendera merah putih di depan istana?

Dan merdeka kah kita?
Atau cukup seperti seorang M******i yang suka teriak ‘merdeka’ di depan massa berbaju merah?
Atau cukup dengan melihat gadis-gadis ayu anggota Paskibraka mengibarkan bendera merah putih di depan istana?

Kehadiran saya di Observatorium Bosscha tentu saja tak boleh disia-siakan, walaupun tujuan ke Bosscha sebenarnya buat menjalani sebuah mata kuliah yang mesti saya ambil—mata kuliah yang rasanya gak penting sih, tapi ya gitu lah, namanya juga wajib diambil. Kesempatan ini sekarang merupakan kesempatan langka untuk melampiaskan nafsu.
Bukan nafsu sembarang nafsu. Ini nafsu yang tertahan sekian lama. Dan setelah pelampiasan, ini hasilnya yang pertama:

Diatas itu foto Jupiter, saya ambil bersama rekan saya Ismansyah dengan menggunakan teleskop Unitron (d=102mm) dan kamera CCD NexImage. Isman yang mengoperasikan teropongnya (dia itu Master of Unitron), dan saya yang ambil gambarnya. Hasil yang terlihat diatas itu masih tergolong cupu sih, maklum cuaca tak terlalu mendukung (di langit banyak awan) dan saya sendiri belum terlalu ahli dalam hal mengoperasikan software pengedit gambar.
Selagi ada waktu, saya akan coba cari foto-foto yang lain.
Oh ya, tadi juga dapet kabar burung. Burungnya bilang “temen saya bilang pak dosen berinisial HLM bilang ada hibah teleskop dari Jepang buat beberapa kampus di Indonesia, dan salah satu kampus yang kebagian adalah Kampus Termegah di Asia Tenggara*.” Wew ![]()
Kalau saja burungnya berkata jujur, ya baguslah. Kalau boong, kayaknya enakan digoreng aja tuh burung.
*Istilah ini saya rasa tak dapat dipertanggungjawabkan sama sekali, tapi entah kenapa masih saja dipakai oleh kalangan tertentu ![]()

Selamat berjuang, rekan-rekan Front Pembela Islam!
Takkan tegak, Dunia Islam-mu hanya dengan ragu
Dan termangu menjalin mimpi tanpa gerak maju
(Izzatul Islam - Pemuda)
Baca kronologis versi FPI, yang bener soal pencekikan, Ahmadiyah perlu ditindak, peserta demo AKKBB dibayar.
Dan, adakah media massa di Indonesia ini yang seadil Republika? Baca Tajuk di Republika, 3 Juni 2008. Saya pesan, baca dengan sikap openmind. Saya sudah baca tajuk dan opini di Kompas dan Tempointeraktif, yang umumnya bertolak belakang dengan Republika.

Saya pernah tergugah oleh pernyataan teman saya, Isman, bahwa idealitas pemikiran seseorang mungkin sekali bergantung kepada kondisi hidupnya. Maksudnya, pada tingkat kemakmuran orang tersebut. Maka, ketika seorang pedagang gorengan memilih bunuh diri karena melonjaknya harga minyak goreng membuat usahanya hancur dan kehidupannya makin tak menentu, tak ada orang lain yang berhak menyalahkannya.
Secara moral-religius, memang benar bahwa tindakan itu adalah cermin tak adanya idealisme, ketidak-percaya diri-an dan ketidak-dekatannya dengan Sang Pencipta. Namun, secara moral pula tak ada orang yang boleh mencaci tindakannya. Biarlah Allah SWT yang membalasnya, sesuai dengan apa yang menurut-Nya adil. Karena hanya Dia yang Maha Adil!
—
Saya masih beruntung dapat hidup! Masih bisa makan, menikmati refreshing setiap weekend, kuliah, dan bercita-cita tentang masa depan. Walau demikian, naiknya harga BBM masih membuat kaget. Salah satu efek langsung adalah ongkos angkutan di kota Padang untuk semua jurusan naik Rp 500. Biasanya bus kota cuma 1500, sekarang 2000. Angkot jurusan Pasa Baru — Pasa Raya yang biasanya Rp 2000, sekarang Rp 2500.
Buat saya, biar kaget dan rada berat hati menambah lima ratus, itu memang masih terjangkau—walau saya bukan anak orang kaya, tapi alhamdulillah masih berkecukupan. Namun seringkali ngeri membayangkan mereka yang … “kurang beruntung” dibandingkan saya.
Masih bisakah mereka bercita-cita tentang masa depan? Entah. Di sebuah koran, dinyatakan bahwa seorang petani hanya bisa pasrah, dan berdo’a semoga rezekinya tetap mencukupi. Di koran lain, dinyatakan bahwa nelayan hanya bisa menangis melihat kenyataan bahwa BBM yang seharusnya menjadi hak mereka, ternyata dijual ke orang kaya dengan harga yang lebih mahal. Dan mungkin juga ada lagi yang memilih bunuh diri?
—
Menyatakan bahwa naiknya harga BBM sekarang ini akan menyelamatkan bangsa ini di masa depan, tampak nonsens. Sebuah bangsa hanya akan selamat kalau rakyatnya makmur. Dan rakyat akan makmur kalau pemerintah serius ngurusin rakyat.
Mungkin ada pertanyaan, gimana bisa ngurusin rakyat kalau duitnya tekor? Tapi nyatanya persoalan bukan pada duit ada atau tidak, melainkan pada kemauan untuk mengelola duit dengan benar. Satu kasus, berapa gaji presiden, ketua DPR, ketua MPR, anggota DPR, gubernur, dan pejabat lainnya per bulan?
Ah… seharusnya gaji mereka cukup dikasih flat rate, dua juta saja per bulan untuk semua pejabat tinggi, dengan demikian pemerintah masih punya sisa duit banyak untuk menyelamatkan rakyat. Menyelamatkan rakyat, bukan menyelamatkan kapitalisme global. Gunakan duit itu untuk membangun sekolah, beliin buku, agar anak Indonesia pintar dan bisa mandiri. Benerin itu jalan raya, biar perdagangan hasil bumi rakyat bisa berkembang.
Ngapain juga presiden dan pejabat dikasih puluhan juta? Inilah pengelolaan keuangan negara yang paling tak ada gunanya. Khalifah Umar bin Abdul Aziz sama sekali tidak kaya saat memimpin sebuah ‘kerajaan’ besar, toh dia tetap bisa mengayomi rakyat! Dan namanya dicatat dengan tinta wangi oleh sejarah…
Umar bin Abdul Aziz punya kemauan untuk merasakan penderitaan rakyat, dan ia menyerahkan harta keluarganya pada negara—walau harta itu adalah haknya sebagai khalifah. Ia mendobrak sistem yang dipakai khalifah2 Umayyah yang bertingkah bak raja-raja Romawi dan Persia yang kemaruk. Beliau syahid, diracun oleh persekongkolan anggota keluarga Umayyah yang pro status quo. Adakah pemimpin yang mau mengikuti jejaknya saat ini?
—
Apa kabar Lapindo? Apa kabar korban bencana? Apa kabar kasus Munir? Apa kabar kasus korupsi? Apa kabar sekolah rusak? Apa kabar infrastruktur yang terbengkalai? Apa kabar kuliah mahal?
Apa kabar DPR? Asyik ya, bisa jalan-jalan studi banding ke Argentina.
Apa kabar Parpol? Masih asyik berkelahi di internal partai, atau cuma sibuk menyiapkan pemilu tahun depan?
Pak Presiden? Dulu sih kerjaannya nyanyi—kenapa gak sekalian aja ikut Indonesian Idol ya? Atau Mama Mia deh… Minyak sudah dinaikin… sekarang apa lagi Pak?
Pak Ketua MPR? Maaf Pak, saya juga sedikit khawatir … Mudah-mudahan bisa tetap jadi panutan … Saya pikir, sebagai ketua MPR, Bapak tidak usah ikut berkampanye untuk calon kepala daerah dari PKS, walau bapak masih duduk di struktural PKS.
Ketua DPR? Ah… sudahlah… capek saya nulis…

BBM dipastikan naik sekitaran 28 persen. Baca di sini.
Setelah itu elite politik rame-rame ngomong dan perang kata-kata. Liat saja, ada SBY dan JK membantah omongan Wiranto, Kwik Kian Gie, Rizal Ramli. Baca di Media Indonesia edisi hari Kamis ( 22.05.2008 ) ini.
Mahasiswa kena serempet peluru saat demo anti-kenaikan BBM. Ada banyak beritanya di koran.
Ngomong-ngomong, upacara 100 tahun kebangkitan nasional di Istora Senayan tanggal 20 Mei lalu itu gede-gedean ya? Trus, seremoni macam begitu apa untungnya sih buat kebangkitan bangsa kita?
—
Apa sih gunanya APBN diselamatkan? Apanya APBN sih yang perlu diselamatkan? Katanya, penyelamatan APBN itu untuk menyelamatkan ekonomi negara. Ekonomi negara selamat tapi rakyat tak selamat, apa untungnya?
Di satu sisi, ada yang bilang pengurangan subsidi itu perlu, dan akan terasa manfaatnya di masa depan. Katanya, bangsa yang maju itu rakyatnya mandiri, dan gak butuh subsidi besar. Tapi harusnya ada program yang meningkatkan ekonomi dan kemandirian masyarakat. Apa sih yang dikerjain pemerintah itu? Bagi-bagi duit BLT! Pendidikan aja mahalnya udah kayak apa! Ujian Nasional yang membodohkan itu masih aja dijalanin. Apa untungnya BLT bagi masa depan? Paling duit segitu dikasih sekarang besok habis. Apa hanya karena ujian nasional ujian nasional dan dapat rangking tinggi, siswa bakal jadi penyelamat bangsa dimasa depan? Apa sekolah yang mahal itu menyelamatkan bangsa?
Bukankah orang bisa mandiri kalau dia punya ilmu? Tapi orang kecil gak perlu sekolah. Sekolah mahal. Biarlah anak pak mentri saja yang kuliah di Londo sana.
Tapi yah, “anda orang kecil tau apa?” itu kali yang dipikirin para pejabat. Mereka pintar, lulusan sekolah ekonomi kenamaan di luar negeri. Orang kecil? SD aja banyak yang gak tamat. Hei, anak SD! Tau apa kau soal jualan minyak? Tau apa kau soal ekonomi global? Tau apa kau soal investasi, divestasi, cadangan risiko fiskal, dan segala tetek bengeknya itu?
Elite politik sialan itu menjadikan momen kenaikan harga BBM ini untuk berkampanye. Bangkai! Dan jangan-jangan ribut-ribut ini juga dimanfaatkan oleh beberapa maling untuk menghindari KPK? Liat aja, heboh KPK beberapa waktu lalu langsung hilang ditelan isu pemerintah mau menaikkan harga BBM.
Bangsa kita bangkit tanggal 20 Mei, dan rakyat kita roboh pada sekitaran tanggal itu. Saya? Anda? Alhamdulillah, kalau saya dan anda masih punya cukup uang untuk makan, dan mudah-mudahan cukup uang untuk dikasih ke seorang tua renta yang hanya bisa mengemis di Pasar Raya.

Ini dia film Islami yang Insya Allah benar-benar Islami. Tidak kayak sinetron yang biasa dibintangi Marshanda atau Baim Wong. Islami-islami gak jelas itu mah…
Ini film menceritakan alm. Ust. H. Rahmat Abdullah, dulu anggota DPR dari PKS, dan di jajaran partai duduk di Majelis Syura. Ini film yang bikin dan bintangnya orang PKS semua
. Inilah untungnya jadi partai yang punya anggota artis yang dedikatif, artis yang bukan cuma jual tampang.
Saya tak tahu apakah film ini bakal beredar untuk umum (di bioskop), atau untuk kalangan sendiri? Kayaknya sih beredar untuk umum—dan saya harap begitu karena setelah nonton trailernya ini, saya jadi haus film Indonesia berkualitas yang tak pernah saya temui lagi sejak nonton Daun Diatas Bantal. Resikonya sih, ini film dianggap kampanye, walau sebenarnya tak ada ajakan untuk milih PKS di film ini. Dan lagi, ini film bukan milik PKS toh? “Milik umat”, harusnya begitu.